BELAJAR SEPANJANG HAYAT


Catatan Harian Seorang Guru IPA







Selamat berkunjung di blog kami, semoga bermanfaat

Sabtu, 12 November 2016

Swara


Cerpen Agus Pribadi

Aku menyesal kenapa harus menanyakan hal itu kepada muridku. Sebagai wali kelas aku terpaksa menanyakan itu untuk suatu keperluan data sekolah di mana aku bekerja.
“Siapa yang tinggal bersama orang tua kandung?”
“Siapa yang tinggal bukan dengan orang tua kandung?”
Pada pertanyaan kedua itu, ada salah satu muridku yang bernama Swara melinangkan airmata.
Gambar Pixabay.com
“Pak, Swara menangis,” ucap Tekun teman sebangkunya. Awalnya aku tak mengetahui kenapa Swara menangis, baru satu minggu aku menjadi wali kelasnya sehingga aku belum tahu latar belakang keluarganya. Yang aku tahu waktu orientasi siswa baru, Swara yang nama lengkapnya Swara Prakasa itu tampil ke depan menyanyikan sebuah lagi. Suaranya amat merdu membuat teman-teman dan para guru yang mendengarnya terkesima. Saat tampil menyanyi di depan teman-temannya, Swara sangat percaya diri. Dalam bernyanyi, ia penuh penghayatan dan menguasai panggung. Itu sebabnya aku tak percaya ketika melihat Swara melinangkan airmata.
Saat istirahat, aku memanggil Swara ke ruanganku.
“Saya minta maaf jika pertanyaan saya tadi membuatmu bersedih, Swara?”
“Tidak apa-apa, Pak,” Swara kembali melinangkan airmata dan berusaha mengusapnya dengan tangannya.
“Saya boleh tahu kenapa kamu bersedih?”
Dengan perlahan Swara menceritakan tentang keluarganya. Sambil mengusap airmatanya yang terus mengalir, Swara menceritakan bagaimana ia harus berpisah dengan ibu kandung yang sangat disayanginya. Ibunya meninggalkannya ketika ia berusia lima tahun. Ibunya pergi ke kota dan tidak pernah kembali. Saat Swara besar, ia kerap mendengar selentingan orang-orang kalau ibunya menikah lagi dengan orang lain. Sebagai anak lelaki semata wayangnya, Swara merasa kecewa dengan kelakuan ibunya itu. Swara dibesarkan oleh ayahnya sampai saat ini. Ketika malam hari Swara kerap bermimpi melihat ibunya sedang berjalan bersama lelaki lain yang bukan ayahnya. Bahkan dalam mimpinya itu, ibunya menggendong seorang anak balita yang bukan dirinya. Swara memanggil-manggil ibunya, namun ibunya hanya melambaikan tangan dan meninggalkannya.
Ketika bersekolah di SD, Swara terlihat bakatnya dalam bidang tarik suara, sedangkan di bidang akademik prestasi Swara biasa saja. Guru keseniannya dapat menangkap bakat menyanyi yang ada pada Swara. Swara dibimbing dengan tekun oleh gurunya itu berlatih olah vokal. Dan kerja keras keduanya pun mulai membuahkan hasil. Awalnya Swara mengikuti lomba menyanyi tunggal di kecamatan dan meraih juara dua. Dan di tahun-tahun berikutnya ia banyak mengukir prestasi dalam bidang menyanyi baik di tingkat kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi. Piala-piala terpajang rapi di lemari rumah. swara sangat ingin memperlihatkannya pada ibu kandungnya, namun ibunya itu tidak juga pulang ke rumah. ketika swara kelas tiga SD, ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan yang sangat menyayangi swara layaknya anak kandungnya. Meskipun demikian Swara tetap terkenang-kenang pada ibu kandungnya.
Aku melihat swara bercerita kepadaku dengan tulus dan murni. Sepertinya tidak ditambah-tambah atau dikurangi. Aku mendengarkannya dengan seksama.
“Kamu yang tegar dan tabah ya. semoga kelak kau dapat bertemu dengan ibumu.” Aku memberinya semangat setelah ia selesai bercerita.
Hari-hari yang berlalu dilalui murid-murid kelasku, kelas 7 F dengan bersemangat, termasuk juga swara. Ketika acara perwalian aku mengisinya dengan motivasi yang aku berikan agar murid-muridku bersemangat dalam belajar dan mengukir prestasi. Seperti sebuah novel yang pernah saya baca yang mengandung ungkapan yang memberi semangat, yakni “man jadda wa jada” dalam novel yang berjudul Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi.
“Anak-anak, jika kita bersungguh-sungguh maka akan berhasil,” ucapku memberi suntikan semangat pada mereka. Murid-muridku pun tampak antusias di lihat dari duduknya yang agak condong ke depan.
Ketika ada lomba antar kelas, murid-muridku mempersiapkannya dengan baik, khususnya dalam perlombaan menyanyi secara beregu. Swara tampak aktif memberi masukan pada teman-temannya dalam hal olah suara dan gaya pada saat menyanyi. Dan hasilnya kelas kami menjadi juara satu. Tubuh Swara yang agak kecil diangkat oleh teman-temannya, demikian mereka mengekspresikan kemenangannya.
Ketika kenaikan kelas, Swara tidak mendapatkan ranking, namun banyak prestasi yang dicapainya di bidang menyanyi. Swara menyumbangkan lima piala lomba menyanyi kepada sekolah.
Tahun ajaran baru, swara kembali menjadi bagian dari kelas dimana aku menjadi wali kelasnya, yakni kelas 8C. Belum genap sebulan menjalani kelas barunya Swara sudah beberapa hari tidak masuk tanpa keterangan apapun. Saat aku berkunjung ke rumahnya, hanya neneknya yang menemuiku.
Menurut neneknya, Swara minta di antar ayahnya ke Jakarta untuk menemui ibu kandungnya. Aku pun menyayangkan orangtua swara yang tidak membuat surat ijin untuk anaknya. Seminggu sudah swara tidak masuk tanpa surat ijin. Mungkin swara sudah pindah sekolah di Jakarta.
Hari senin pagi aku terkejut karena swara berangkat kembali ke sekolah. Dan ia menemuiku meminta maaf karena surat ijin yang sudah dibuat ternyata tertinggal di tas teman yang dititipi surat itu. Di Jakarta Swara telah bertemu ibu kandungnya,dan berjanji pada ibunya itu akan terus berprestasi agar menjadi anak kebanggaan orang tua.
Aku bersyukur, swara bisa kembali bersekolah menggapai cita-citanya yang tergantung di langit.[]
Banyumas, 12 Maret 2016

Share:

0 komentar:

VIDEO PEMBELAJARAN

Arsip

Frequency Counter Pengunjung

Artikel Terbaru

LINK SAYA

Komentar Terbaru

Konsultasi IPA