BELAJAR SEPANJANG HAYAT


Catatan Harian Seorang Guru IPA







Selamat berkunjung di blog kami, semoga bermanfaat

Sabtu, 12 November 2016

Masbuk


Oleh Agus Pribadi

Awalnya aku selalu masbuk saat sholat berjamaah di Mushola depan rumah. Alasan-alasan dalam hati selalu kubuat untuk membela diri sendiri terlambat sholat berjamaah.
Gambar Pixabay.com
Selalu saja ada pekerjaan yang belum kelar kulakukan saat terdengar kumandang azan Maghrib, padahal Mushola itu letaknya hanya dua meter dari rumahku, tepatnya rumah mertuaku. Dan yang menjadi imam adalah Mertuaku, Haji Muslih. Namun aku selalu saja percaya diri untuk datang ke mushola saat shalat berjamaah sedang berlangsung.
Tapi sejak kejadian itu, aku berusaha untuk bergegas saat panggilan azan menggema dari corong Mushola.
***
Orang itu baru satu minggu kulihat sholat berjamaah di depan rumah. Ia selalu nampak punggung, karena di shaf terdepan, sedangkan aku selalu terlambat di shaf paling belakang.
Aku hanya memperhatikan sekilas orang itu, seorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahun. Biasanya memakai kopiah hitam dan baju koko putih lengan panjang, kain sarung warna hijau.
Orang itu selalu di shaf  terdepan saat sholat berjamaah di Mushola depan rumah. Seperti senja ini, aku melihatnya di shaf paling belakang. Aku memasuki Mushola saat sedang rakaat kedua.
Setelah selesai shalat dan berzikir, aku berusaha mengamati orang itu. Pekerjaan yang tak biasanya aku lakukan.
Dan Allahu Akbar, tangannya...?
Dalam hati aku terkaget. Ternyata saat aku menyalaminya, telapak tangan kanannya tidak ada. Aku tergetar. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini. Orang itu yang telapak tangan kanannya tidak ada, tak pernah terlambat mengucap takbir dan mengangkat tangannya saat takbiratul ihram, meski tangan kanannya tak sempurna. Sedangkan aku, yang Engkau beri kesempurnaan tangan, selalu terlambat bertakbiratul ikhram kepadamu.
Orang itu bercerita, ia telah berhenti kerja di Jakarta. Telapak tangan kanannya putus karena kecelakaan kerja. Sekarang ia tinggal di desa dan bekerja sebagai pedagang mainan anak.
***
Saat terdengar kumandang azan Isya, aku bergegas mengambil air wudlu. Saat takbiratul ikhram, kuangkat tanganku dengan pengkhayatan yang dalam. Aku sholat bersebelahan dengan orang itu. Saat sujud, tak terasa aku menangis tersedu. Ya Allah ampunilah hamba-Mu ini.
Aku bertekad untuk tidak terlambat lagi dalam shalat berjamaah.[]

Share:

0 komentar:

VIDEO PEMBELAJARAN

Arsip

Frequency Counter Pengunjung

Artikel Terbaru

LINK SAYA

Komentar Terbaru

Konsultasi IPA