BELAJAR SEPANJANG HAYAT


Catatan Harian Seorang Guru IPA







Selamat berkunjung di blog kami, semoga bermanfaat

Sabtu, 12 November 2016

Sepeda Motor


Cerpen Agus Pribadi

Satu-satunya kendaraan yang menjadi andalanku saat ini adalah sepeda motor bebek milikku yang kubeli dengan cara mengangsur selama empat tahun. Kendaraan tersebut paling cocok karena tempat kerjaku jauh. Naik angkutan umum bisa terlambat, naik mobil pribadi belum mampu membeli.

Aku lebih memilih motor yang bukan matic karena menurutku memindah-mindah gigi lebih mantap daripada tanpa gigi seperti yang ada pada motor matic.
Selama empat tahun dengan telaten aku mengangsur sepeda motorku setiap bulannya. Uang setengah juta harus kusetor setiap bulan ke dealer motor. Seperti penulis yang telaten menulis buku yang sangat tebal, aku juga harus telaten mengangsur pembayaran kendaraanku agar tidak dicabut oleh dealer karena terlambat mengangsur. Ada seorang tetangga yang motornya dicabut dealer karena terlambat beberapa bulan padahal ia sudah mengangsur selama setahun. Aku tak mau nasib motorku sama seperti tetanggaku itu.
Aku membeli sepeda motorku, tepatnya mengangsurnya bertepatan dengan sebulan sebelum hari pernikahanku. Mungkin bisa dibilang agak nekad, pengeluaran sedang agak banyak untuk persiapan menikah, bersamaan dengan itu harus mengangsur sepeda motor. Ini semata kulakukan karena aku ditempatkan di tempat yang jauh pada pekerjaanku yang baru ini. Jika ditempuh naik sepeda motor, maka butuh waktu 50 menit untuk aku sampai ke tempat kerja. Jika aku naik kendaraan umum pasti setiap hari akan terlambat karena harus beberapa kali naik kendaraan umum.
Seperti seorang yang mengendarai sepeda motor di jalanan umum. Pasti kendaraannya akan mengalami kecepatan yang berbeda beda. Kadang bisa cepat, kadang harus mengerem karena ada yang menyeberang jalan, kadang harus berhenti karena lampu merah. Pun dengan angsuranku setiap bulannya, tidak selalu berjalan mulus terutama di bulan-bulan awal. Kadang terlambat satu atau dua hari, kadang lancar. Jika sedang terlambat, akan ada petugas yang datang menagih. Setelah melewati enam bulan, angsuran sepeda motorku berjalan lancar seperti mobil yang melaju di jalan tol. Sebagai pegawai yang bekerja di tempat yang baru, aku giat bekerja, apalagi aku sudah menikah maka bertambah giatlah aku bekerja untuk menghidupi istri dan anakku kelak. Penghasilanku pun linier dengan semangatku itu. Angsuran sepeda motor tak sebulan pun terlambat aku setorkan ke dealer. Aku pun rajin melakukan servis kendaraan ke bengkel resmi, jika ganti suku cadang pun yang asli.
Panas dan hujan tak aku hiraukan, aku tetap rajin bekerja. Sejalan dengan itu aku tak menyadari, sepeda motor sudah semakin usang. Kendaraan yang pada awalnya baru dan kinclong, sekarang sudah seperti kendaraan yang uzur dan jarang kurawat. Meski angsuran sudah lunas, problem kendaraanku sekarang adalah sudah sulit dipakai, mungkin karena suku cadangnya sudah minta untuk diganti tapi aku belum juga menggantinya. Kalaupun mengganti onderdil yang aus, aku menggantinya bukan dengan yang asli. Ditambah lagi sekarang aku sering mengantuk saat pulang dari tempat kerja. Mungkin karena lelah ditambah melakukan perjalanan jauh di atas sepeda motor terkadang membuat mengantuk.
Mengenai sepeda motor ada yang menyarankan untuk menjualnya dan menggantikan dengan yang baru.
“Dijual saja, nanti beli yang baru biar kau lebih nyaman dalam berkendaraan,” saran teman kantorku. Aku hanya mengiyakan namun dalam hati aku tak tega untuk menjual sepeda motor yang mendapatkannya harus mengangsur selama empat tahun. Suatu malam aku mengamati sepeda motorku yang aku parkir di ruang tamu. Aku mengamati kendaraan yang kotor karena jarang dicuci. Aku melihat kendaraan itu seperti letih, menemaniku selama lebih dari empat tahun pulang pergi dari rumah ke tempat kerja. Aku merasa tak adil dalam memperlakukan kendaraanku. Esoknya aku menuju ke tempat cucian motor untuk dibersihkan. Biarpun sudah dibersihkan motorku tetap tampak sudah uzur jika dibandingkan dengan motor-motor baru keluaran baru. Apalagi saat kujalankan sudah sulit untuk berjalan dengan cepat. Terbersit keinginan untuk menjualnya dan membeli motor baru sebagai penggantinya. Motor yang lebih up to date. Teman-temanku di kantor pun menyarankanku untuk membeli motor yang baru dan menjual motor lama.
“Ayo Bud, beli motor baru yang lebih gaul, nanti kau akan tampak lebih muda lagi, pasti kau akan tampak keren jika memakai motor model terbaru,” ucap temanku di kantor. Aku menanggapi dengan tersenyum saja.
Sambil mengamati cicak-cicak di dinding kamar, aku menimbang-nimbang apakah akan membeli motor baru atau tidak. Seekor cicak di dinding juga sedang bingung mengambil keputusan apakah akan menangkap nyamuk atau meninggalkannya. Sedari tadi cicak itu diam saja melihat seekor nyamuk berada di depannya. Ketika cicak itu akan menangkap nyamuk itu, sepersekian detik sebelumnya nyamuk itu sudah melarikan diri. Cicak itu hanya menangkap angin.
Akhirnya aku mengambil keputusan untuk tidak menjual motor lamaku, dan tidak membeli motor baru. Aku memutuskan akan mengganti onderdil yang perlu diganti agar motorku bisa menjadi lebih baik dan nyaman saat dipakai.[]
Banyumas, 22 Maret 2016


Share:

0 komentar:

VIDEO PEMBELAJARAN

Arsip

Frequency Counter Pengunjung

Artikel Terbaru

LINK SAYA

Komentar Terbaru

Konsultasi IPA