BELAJAR SEPANJANG HAYAT


Catatan Harian Seorang Guru IPA







Selamat berkunjung di blog kami, semoga bermanfaat

Sabtu, 12 November 2016

Masihkah Siswa Menganggap Gurunya Sebagai “Guru”?


Oleh Agus Pribadi

Siswa sekarang berada di era teknologi informasi. Guru bukan lagi menjadi satu-satunya tempat bertanya dan rujukan bagi siswa, perannya telah terbagi dengan televisi, internet, HP dan peralatan teknologi informasi lainnya. Jika demikian, masihkah siswa menganggap gurunya sebagai guru di sekolah?
Gambar Pixabay.com

Sebagian besar dari mereka akrab dengan kecanggihan era tersebut. HP, Facebook, twitter, internet, dan peralatan lainnya telah akrab dalam keseharian mereka di rumah maupun di sekolah.
Konsekuensi dari hadirnya era tersebut adalah membanjirnya informasi di masyarakat termasuk juga anak-anak usia sekolah. Informasi yang ada campur aduk antara yang sesuai nilai dan norma yang ada di masyarakat maupun yang bertentangan dengannya. Nyaris tanpa filter. Menurut almarhum Cak Nur (Nur Cholis Madjid), televisi atau monitor komputer sebagai berkah yang bercampur. Dalam layar televisi atau monitor komputer dapat dilihat secara bergantian antara hal yang baik dengan hal yang tidak baik.
Di satu sisi, orang tua senang dan bangga dengan hadirnya teknologi informasi dan anak-anaknya mampu menguasainya. Anak-anak dengan fasih menggunakan teknologi informasi untuk berbagai keperluan dan manfaat. Mereka menggunakannya untuk mencari informasi berkaitan dengan pelajaran di sekolah, mengerjakan berbagai tugas yang diberikan gurunya, melatih kemampuan bahasa Inggris, berkomunikasi dengan orang lain, dan banyak manfaat lainnya.
Di sisi lain, orang tua cemas dengan dampak negatif dari teknologi informasi. Berbagai kejadian negatif kerap menimpa anak-anak kita dalam kaitannya dengan teknologi informasi. Seorang anak yang pergi dari rumah dengan teman jejaring sosialnya kerap terdengar. Pergaulan bebas tanpa terpantau, pornografi, dan berbagai dampak negatif lainnya yang bisa timbul dari teknologi informasi tersebut. Bagi orang tua yang peduli, mereka menginginkan dan mengkampanyekan internet sehat. Hal itu untuk mencegah dan meminimalisir dampak negatif dari internet.
Internalisasi karakter siswa
Informasi yang membanjiri anak-anak kita (usia sekolah) bisa jadi telah masuk ke alam bawah sadar mereka. Merasuk dan ter-internalisasi dalam diri mereka. Internalisasi informasi pada diri anak bisa mempengaruhi karakter mereka. Hal itu bekerja dalam alam bawah sadar. Internalisasi itu akan semakin masif jika datang bertubi-tubi seperti air bah yang tumpah.
Jika informasi itu baik, tentu akan mendukung pada terbentuknya karakter anak yang baik pula. Namun jika informasi itu tidak baik dan bertentangan dengan nilai dan norma yang telah ada di masyarakat akan mempengaruhi karakter anak. Hal itu membawa pada kecemasan orang tua dan juga guru di sekolah. Bawah sadar mereka dapat terpengaruh dengan suguhan-sugahan informasi negatif setiap harinya yang dapat hadir melalui internet, dan media lainnya.
Guru senantiasa mengajarkan informasi dan nilai-nilai yang baik pada para siswa di sekolah. Hal itu disampaikan melalui pelajaran Agama, Kewarganegaraan, Pengetahuan Sosial, dan pelajaran lainnya. Harapannya ada internalisasi yang akan membentuk karakter siswa.
Sebelum adanya kemajuan teknologi informasi, siswa menggantungkan informasinya hampir seluruhnya pada guru di sekolah. Guru dengan leluasa memasukan nilai-nilai kebaikan agar masuk ke dalam diri siswa dan membentuk karakternya.
Adanya era teknologi informasi, guru harus bersaing dengan sumber informasi lainnya untuk menyampaikan informasi yang diperlukan siswa. Siswa sekarang merupakan siswa yang banyak dibanjiri dengan berbagai informasi dari sungai yang bernama teknologi informasi. Apa yang disampaikan guru di sekolah bisa jadi sebagian atau seluruhnya di tolak siswa karena dalam pikirannya sudah mempunyai pilihan mana informasi yang diterima dan ditolak. Padahal bisa jadi informasi yang dipedomani siswa merupakan informasi tidak baik yang berasal dari sumber lain selain guru.
Kita tentu berharap, jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini mengarah pada jawaban yang positif bukan sebaliknya. Menjadi tugas kita semua, baik guru, orang tua, dan masyarakat untuk membekali anak-anak kita dengan informasi yang baik sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat kita. Masih ada secercah harapan di sana.[]

Share:

0 komentar:

VIDEO PEMBELAJARAN

Arsip

Frequency Counter Pengunjung

Artikel Terbaru

LINK SAYA

Komentar Terbaru

Konsultasi IPA