BELAJAR SEPANJANG HAYAT


Catatan Harian Seorang Guru IPA







Selamat berkunjung di blog kami, semoga bermanfaat

Jumat, 05 Mei 2017

Jamur


Cerpen Agus Pribadi
Sebagai sarjana Biologi sejak lama sebenarnya aku ingin membudidayakan jamur, khususnya jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Namun entah kenapa, keinginan itu masih saja sekadar keinginan. Sebuah keinginan yang terbersit sejak aku masih bujangan sampai memiliki dua orang anak. Sejak aku baru lulus (fresh graduate) sampai aku menjadi seorang guru IPA.

Sebagai sarjana Biologi atau sarjana Sains aku lebih bergelut dengan ilmu murni, namun jalan hidup mengantarkanku menjadi seorang guru IPA pada sekolah menengah pertama. Saat kuliah aku mengambil jurusan Zoologi atau ilmu yang mempelejarai tentang hewan. Sedangkan jamur ada pada jurusan botani, meskipun dalam mata kuliah  tertentu aku juga mempelajari jamur, namun tidak terlalu aku tekuni.
Waktu kuliah sebenarnya ada teman-temanku yang menekuni budidaya jamur Tiram Putih, namun waktu itu aku kurang tertarik untuk mengikuti jejak teman-temanku itu. Setelah aku wisuda, keinginanku untuk bertanam jamur mulai tumbuh, namun tetap tidak terwujud. Aku lebih sibuk mencari kerja dan berkegiatan di bidang lain. Pernah aku mencoba membudidayakan benih Gurami, namun kurang berhasil sampai aku memilih bekerja sebagai seorang sales pada sebuah perusahaan farmasi, dan akhirnya aku putar haluan bekerja menjadi seorang guru.
Bukan hanya karena aku Sarjana Biologi sehingga dengan menekuni budidaya jamur akan semakin mengukuhkan keilmuanku, namun menurutku jamur merupakan makhluk hidup yang unik. Dalam ilmu klasifikasi tumbuhan, bukan tanpa alasan kalau awalnya jamur masuk dalam dunia tumbuhan. Sekarang terpisah dan menjadi dunia sendiri yakni dunia jamur (Fungi). Jadi, meskipun jamur memiliki bentuk seperti tumbuhan, namun jamur bukanlah tumbuhan karena tidak memiliki zat hijau daun (klorofil). Tersebab tidak memiliki zat hijau daun, jamur tidak bisa membuat makanannya sendiri (fotosintesis). Jamur mengambil makanan dari luar tubuhnya, yakni makhluk hidup lain atau sisa makhluk hidup yang telah mati. Sebagai contoh jamur Tiram Putih.  Jamur itu biasanya dibudidayakan pada media serbuk kayu yang dicampur dengan dedak dan bahan lainnya. Menurut referensi yang aku baca, selain memiliki gizi yang tinggi, jamur tiram juga bermanfaat untuk kesehatan dan pengobatan.
Pertemuanku kembali dengan jamur khususnya jamur Tiram Putih terjadi sekitar beberapa minggu yang lalu. Berawal dari sebuah pameran hasil karya para pelajar yang diadakan di kotaku. Aku dan beberapa muridku ikut menyaksikan kegiatan itu, dan aku berkesempatan singgah di sebuah stand yang menjual baglog jamur Tiram yang siap tanam. Aku membeli dua buah baglog dan aku letakkan di dekat kamar mandi. Beberapa minggu kemudian tampaklah jamur Tiram yang mulai tumbuh. Beberapa hari kemudian, jamur-jamur itu sudah menampakkan tubuh buahnya yang seperti tiram berwarna putih. Pada saat panen, hasilnya satu piring jamur Tiram siap dimasak oleh istriku.
“Wah, lumayan buat makan siang sayur jamurnya, Mas.” Ucap istriku melihat jamur segar yang berada di atas piring yang siap untuk dimasak.
“Iya, kalau dimasak menjadi sayur jamur yang pedas, pasti aku suka, apalagi nasinya baru menanak. Pasti aku akan menghabiskan nasi lebih dari satu piring,” sahutku.
Istriku pun memasak jamur segar itu. Aku menungguinya sambil bermain dengan si Mbarep, anakku yang berumur tujuh tahun. Sementara si bungsu yang berumur setahun sedang tidur di kasur yang berada di kamar belakang. Kedua anakku laki-laki.
Sebelumnya aku mengontrak rumah di luar kota bareng istri ketika awal menikah karena mengikuti tempat kerjaku di luar kota. Namun, ketika aku pindah kerja di tempat yang dekat dengan rumah orang tua istriku, kami pun pindah menempati rumah orang tua istriku. Aku dan istriku menempati rumah bagian depan, sementara orang tua istriku menempati bagian belakang. Hanya sekat tembok dengan pintu yang tidak terkunci yang membatasi rumah bagian depan dan rumah bagian belakang. Dan beberapa tahun kemudian aku membuat kamar mandi sendiri agar tidak mengganggu orang tua istriku. Dan di dekat kamar mandi itu aku letakkan dua buah baglog yang ditumbuhi jamur. Aku melihat baglog yang satu juga mulai tumbuh jamur yang baru berumur satu hari menyusul baglog satunya yang jamurnya sudah dipanen. Melihat jamur itu aku seperti melihat diriku sendiri. Terkadang aku memiliki keinginan untuk membeli tanah dan membangun rumah sendiri. Bukannya kami tidak hidup harmonis tinggal dalam satu rumah dengan orangtua istriku. Namun, aku merasa akan lebih nyaman tinggal mandiri di rumah sendiri bareng anak istri. Namun aku masih mencoba memegang komitmen yang diucapkan istri ketika aku mengajaknya menikah.
“Tapi Mas harus tinggal di rumah ini,” ucap istriku kala itu. Aku pun mengiyakannya. Aku memegang komitmen itu sampai saat ini, sampai usia pernikahan sudah sembilan tahun.
“Mas, ini sayurnya sudah matang!” seru istriku. Aku yang sedang melamun agak kaget. Si Mbarep sedang asyik sendiri bermain game yang ada di HP android milik ibunya.
“Ayo kita makan!” seruku.
Aku mengambil nasi dan mencoba sayur jamur yang baru dimasak istriku. Rasanya memang nikmat.
Aku berencana akan membudidayakan jamur Tiram bulan depan. Sebagai hiburan ketika penat urusan pekerjaan. Semoga keinginan dan rencanaku ini dapat terlaksana bukan sekadar keinginan semata. []
Banyumas, 1 Januari 2017

Share:

0 komentar:

VIDEO PEMBELAJARAN

Frequency Counter Pengunjung

Artikel Terbaru

LINK SAYA

Komentar Terbaru

Konsultasi IPA