BELAJAR SEPANJANG HAYAT


Catatan Harian Seorang Guru IPA







Selamat berkunjung di blog kami, semoga bermanfaat

Selasa, 08 November 2016

Tips Melakukan Pembelajaran yang Menyenangkan di Kelas


Oleh Agus Pribadi, S.Si
Pembelajaran yang menyenangkan merupakan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik dengan mengkondisikan suasana belajar yang menyenangkan. Peserta didik merasa nyaman dan senang dalam belajar, tanpa ada rasa takut atau was-was, yang pada gilirannya tujuan pembelajaran akan terwujud dengan baik.





Sampai saat ini masih ditemui pembelajaran dengan disertai hukuman pada peserta didik. Memang biasanya hukuman kepada peserta didik bertujuan untuk sesuatu hal yang positif, misalnya untuk mendisiplinkan peserta didik. Namun jika hukuman tersebut melampaui batasnya, maka peserta didik dapat menjadi tertekan. Hukuman tersebut biasanya berupa : pendidik memarahi peserta didik yang melakukan kesalahan; pendidik mengeluarkan peserta didik yang melakukan kesalahan ke luar kelas saat pembelajaran berlangsung; pendidik memberi tugas pada peserta didik untuk membersihkan kamar mandi, dan lain sebagainya. Sepanjang hukuman itu tidak memberatkan peserta didik dan bertujuan dalam rangka pembelajaran tentu masih dapat ditolerir, namun jika hukuman itu telah mengarah pada mengganggu psikologis peserta didik, hal itu hendaknya dihindari.
Dalam kegiatan pembelajaran, terkadang ditemui pendidik yang sering memberikan hukuman akan ditakuti peserta didik. Sedangkan pendidik yang sabar dan tidak memberikan hukuman akan cenderung diabaikan peserta didik. Apakah memang demikian seharusnya, bahwa untuk membentuk karakter peserta didik adalah dengan menghukumnya dan apakah itu satu-satunya cara untuk mendisiplinkan peserta didik? Tentu jawabannya tidak.
Berikut ada beberapa tips untuk melakukan pembelajaran yang menyenangkan yang jika diterapkan oleh pendidik akan dapat membentuk karakter peserta didik tanpa sebuah hukuman yang dapat mengganggu psikologis peserta didik. Tips tersebut adalah :
1.        Hindari memberi hukuman yang berat pada peserta didik
Sudah menjadi keseharian pendidik untuk berinteraksi dengan peserta didik yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, baik keluarga, lingkungan masyarakat, dan kepribadiannya. Ada peserta didik yang aktif, dan ada yang pasif. Ada peserta didik yang cepat menyerap materi pembelajaran, ada yang lambat.  Ada yang sangat percaya diri, ada juga yang kurang percaya diri, dan lain sebagainya. Tentunya hal itu akan mempengaruhi kondisi pembelajaran di dalam kelas.
Ada peserta didik yang ramai sendiri saat pembelajaran berlangsung, ada peserta didik yang bermain-main sendiri, dan ada juga yang mengucapkan kata-kata yang dapat melukai hati pendidik. Jika pendidik mengalami hal seperti itu, maka hendaknya ia menghindari hukuman yang berat pada peserta didik. Pengelolaan kelas dapat dilakukan tanpa harus memberi hukuman pada peserta didik. Misalnya dengan cara mengucapkan perintah pada seluruh peserta didik untuk memperhatikan papan tulis, mengajak dialog secara baik-baik dengan peserta didik yang bermasalah tersebut, menyuruhnya untuk menjawab sebuah pertanyaan atau menyuruhnya maju ke depan kelas menuliskan jawaban di papan tulis atas pertanyaan yang diberikan oleh pendidik, dan masih banyak cara lainnya tanpa disertai dengan hukuman yang memberatkan peserta didik.

2.                  Menumbuhkan kesabaran sebagai seorang pendidik
Kesabaran merupakan bekal yang hendaknya dimiliki oleh seorang pendidik. Dengannya, pendidik akan tetap fokus dalam melakukan skenario pembelajaran sampai tujuan pembelajaran tercapai. Dengannya, pendidik akan dapat menyikapi dengan wajar semua perilaku peserta didik di dalam kelas.
Pendidik yang telah teruji kesabarannya akan mampu melakukan pengelolaan kelas dengan baik tanpa disertai hal-hal yang dapat merusak suasana pembelajaran, misalnya : marah-marah atau mengeluarkan peserta didik dari kelas. Memang pendidik merupakan manusia juga yang bisa saja marah dan emosi, namun demikian hal itu hendaknya dapat dikendalikan dan dikelola dengan baik.

3.                  Menumbuhkan rasa humor sebagai seorang pendidik
Humor dapat mencairkan suasana. Humor juga dapat mengakrabkan kedekatan psikologis dalam pembelajaran di kelas antara pendidik dengan peserta didik.
Hendaknya pendidik menumbuhkan rasa humor dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik dapat tetap rileks dalam mengikuti pembelajaran. Namun demikian perlu diingat bahwa humor pun tetap dalam koridor pembelajaran, dan tidak berlebihan agar tidak merusak suasana pembelajaran yang dibangun. Humor pun tentunya dilakukan situasional, tidak dalam setiap suasana, pada saat-saat yang tepat, humor dapat menjadi pengobat kejenuhan dan kelelahan baik fisik maupun psikis peserta didik.
            Dengan pembelajaran yang demikian, maka diharapkan peserta didik akan selalu merindukan proses pembelajaran di dalam kelas. Suasana di dalam kelas pun selalu menyenangkan, baik bagi pendidik maupun peserta didik. Dengan suasana yang menyenangkan, maka tujuan pembelajaran pun akan dapat tercapai.[]

Share:

Sisi Lain Multimedia Dalam Pembelajaran


Oleh Agus Pribadi

Saat ini teknologi informasi merambah hampir di setiap segi kehidupan umat manusia. Dari sektor formal maupun informal. Dalam bidang pendidikan, teknologi informasi telah merambahnya. Teknologi informasi berupa multimedia mulai digunakan sebagai salah satu media pembelajaran. Di samping berbagai kelebihan yang kerap diperkenalkan, multimedia juga mempunyai berbagai kekurangannya. Kekurangan ini perlu diketahui agar guru dapat lebih proporsional dalam menggunakan multimedia sebagai salah satu media pembelajaran. Multimedia bukan satu-satunya media pembelajaran yang paling baik.

Di tengah gencarnya revolusi umat manusia dari saat sebelum banyak digunakannya teknologi informasi sampai pada saat ini, dimana teknologi informasi seperti satu-satunya arah yang harus dituju oleh umat manusia. Maka perlu dibahas sisi lain dari teknologi informasi (multimedia) dalam pembelajaran. Hal itu agar guru tidak sekedar latah atau ikut-ikutan dalam memanfaatkan media tersebut. Namun memang dari pertimbangan dan kesadaran diri bahwa multimedia memang diperlukan dalam pembelajaran pada materi pembelajaran tertentu (proporsional)
Beberapa kekurangan multimedia, diantaranya :
Pertama, jika menampilkan suatu materi pembelajaran, multimedia hanya menampilkan tiruan atas realitas, bukan realitas itu sendiri.
Misalnya, menampilkan gambar atau video tentang ekosistem pada pelajaran Biologi. Layar LCD hanya dapat menampilkan tiruan (rekaman) gambar atau video mengenai suatu ekosistem. Siswa hanya menontonnya, tanpa berinteraksi langsung dengan realitas ekosistem itu sendiri. Kegiatan menonton masih kurang aktif jika dibandingkan dengan berinteraksi langsung dengan realitas.
Kedua, Multimedia merupakan media interaksi tidak langsung antara guru dengan siswa. Guru menayangkan suatu gambar atau video, sementara siswa melihat materi yang disajikan guru pada layar LCD tersebut. Pada kegiatan tersebut, interaksi guru dengan siswa terjadi secara tidak langsung, yaitu melalui multimedia tersebut.
Hal itu berbeda dengan interaksi langsung antara guru dengan siswa tanpa multimedia. Ada interaksi mental yang lebih akrab, jika guru langsung menjelaskan suatu materi pada siswa. Melalui penjelasan langsung (suara guru secara langsungdengan tinggi rendah suara yang dapat diatur, senyuman, mimik muka, gerakan tubuh dan bagian tubuh), guru lebih dekat dan akrab secara psikologis dengan siswa.
Guru sebagai sosok manusia ciptaan Tuhan yang paling sempurna tidak tergantikan oleh media apapun. Perannya sangat unik dalam memfasilitasi siswa melakukan proses pembelajaran. Keunikan ini yang membuatnya tidak tergantikan oleh teknologi informasi apapun dan secanggih apapun.
Ketiga, Multimedia lebih cenderung digunakan untuk menjelaskan materi yang bersifat teoritis. Banyak materi praktis yang tidak dapat dilakukan dengan multimedia. Misalnya berkebun, memasak, membuat herbarium, bermain sepak bola, dan lain sebagainya.
Bijak menggunakan multimedia
Dari paparan mengenai sisi lain multimedia di atas, maka seyogianya guru lebih bijak dalam menggunakan media tersebut. Multimedia tidak selalu dapat digunakan untuk setiap materi pelajaran yang disajikan. Multimedia hanya salah satu media dalam kegiatan pembelajaran. Masih banyak media lain selain multimedia yang layak dipertahankan, misalnya alam, benda-benda, hewan, tumbuhan, sosial masyarakat, dan sebagainya.
Dengan bijak dalam menggunakan multimedia, menggunakannya dengan proporsional, maka guru tidak akan terjebak dalam kegiatan pembelajaran yang tidak tepat. Hal itu untuk tetap mempertahankan berlangsungnya pembelajaran sebagai mana mestinya, sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Teknologi dapat membantu mempermudah kegiatan umat manusia. Namun tidak setiap kegiatan umat manusia dapat dilakukan dengan teknologi (multimedia). Ada rasa kasih sayang, perhatian, tenggang rasa, perenungan, refleksi dan lain sebagainya yang tidak dimiliki oleh teknologi (multimedia).
Teknologi tidak untuk dihindari, tapi dimanfaatkan dengan bijak (proporsional). Hal itu agar dapat dipetik manfaatnya secara optimal.[]

Share:

Pentingnya Guru Menulis


Oleh Agus Pribadi

Permenpan No. 84/1993 mewajibkan bagi guru untuk naik pangkat dari IV/a ke atas dipersyaratkan mengembangkan keprofesiannya dengan membuat karya inovatif. Salah satunya berupa karya tulis ilmiah dengan bobot nilai angka kredit 12.

Di Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah, dalam kurun tahun 2006 – 2010, tercatat hanya 6 guru yang naik pangkat dari golongan IV/a ke IV/b dari 6027 guru. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 6020 guru telah memiliki masa kerja  8-10 tahun dalam pangkat/golongan IV/a tersebut.
Pengganti Permenpan No. 84/1993 adalah Permenpan No. 16 Tahun 2009 yang berlaku efektif mulai 1 Januari 2013. Dalam Permenpan yang baru tersebut, pengembangan profesi guru yang akan naik pangkat dari III/b ke atas, diwajibkan membuat karya inovatif yang salah satunya berupa karya tulis ilmiah.
Kondisi di atas-yang dipaparkan dalam Seminar dan Diskusi Panel tentang Permenpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, tanggal 13 Mei 2012 di Purbalingga- menggambarkan permasalahan yang utama dalam kenaikan pangkat guru adalah menulis (karya tulis ilmiah). Seakan menulis menjadi momok yang dihindari oleh para guru. Padahal dengan akan diberlakukannya Permenpan yang baru, tantangan guru jelas akan semakin sulit. Kemampuan menulis yang baik merupakan salah satu hal yang dipersyaratkan bagi seorang guru.
Meski menulis (karya tulis ilmiah) bukan satu-satunya persayaratan utama dalam kenaikan pangkat guru, tetapi dengan mempunyai kemampuan menulis yang baik akan banyak membantu guru. Kemampuan menulis akan mempermudah guru dalam karir kepangkatannya.
Pembaharuan Permenpan merupakan regulasi yang penting bagi seorang guru. Dengan mengetahui dan menyadari hal itu, maka diharapkan guru akan semakin mempersiapkan diri dalam menghadapi regulasi tersebut.
Budaya Menulis
Meski gambaran di atas terlihat memprihatinkan bagi guru dalam kemampuan menulisnya, namun tetap saja ada harapan yang cerah ke depannya. Saat ini, budaya menulis semakin terlihat meningkat dalam masyarakat kita, termasuk guru. Hal itu didukung oleh kemajuan teknologi informasi. Sosok guru yang dulu dicitrakan dengan sosok Umar Bakri, sekarang telah mendekati sosok Umar Kayam.
Umar Kayam merupakan sosok seorang penulis. Umar Kayam adalah seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan juga seorang guru besar di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1988-1997-pensiun).
Jika budaya menulis semakin meningkat di kalangan guru, maka ke depannya akan sangat mendukung dalam menyambut Permenpan yang baru tersebut. Jika sebelumnya seolah menjadi momok, maka menulis dapat menjadi hal yang menyenangkan dan selalu dirindukan.
Pada awalnya, untuk membudayakan, menulis tidak harus langsung menulis karya ilmiah. Menulis apa saja yang disukai bisa saja dibiasakan, misal menulis puisi, cerpen, novel, artikel, berita, catatan harian dan sebagainya. Kebiasaan menulis dapat dilakukan secara rutin, misal bulanan, mingguan, atau bahkan harian. Bagi mereka yang sudah terbiasa, menulis harian merupakan hal yang mudah dilakukan. Jika guru telah memiliki kebiasaan menulis, maka menulis karya ilmiah pun akan menjadi hal yang semakin mudah untuk dilakukan.
Ruang menulis bagi guru sangat terbuka lebar di era kecanggihan teknologi sekarang ini. Jejaring sosial, jurnalisme warga di blog maupun di koran merupakan ruang yang bisa digunakan oleh guru untuk mengasah kemampuan menulisnya.
Jika ingin menulis yang lebih serius, maka guru dapat mempublikasikan tulisannya pada ruang yang lebih formal, misalnya jurnal ilmiah. Action Guru merupakan Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan yang ada di Kabupaten Purbalingga.
Menulis merupakan aktivitas praktek bukan teori semata. Latihan menulis mulai saat ini bukanlah hal yang terlambat, bahkan sangat baik. terutama bagi mereka yang jarang menulis. Tidak ada kata terlambat dalam latihan menulis. Saat ini pun jika serius berlatih menulis, maka dalam tahun-tahun ke depan guru akan semakin siap menghadapi Permenpan yang baru.
Dengan kemampuan menulisnya, guru profesional-yang merupakan nafas dari Permenpan yang baru- akan tersemat dengan semestinya, bukan sekedar formalitas semu belaka. Di sinilah pentingnya menulis bagi guru.

Share:

Yang Sekolah Anak atau Ibunya?


Oleh Agus Pribadi
Jika melihat anak merengek karena tidak bisa mengerjakan PR dari gurunya di sekolah. Rengekan itu bertambah keras saat ibunya tidak mampu membantu anaknya. ”

Jika hal di atas terjadi, maka timbul pertanyaan : Yang sekolah anak atau ibunya? Anak yang sekolah kok ibunya yang repot.
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan keadaan di atas dapat terjadi, diantaranya adalah :
1)      Soal terlalu sulit.
Salah satu contoh misalnya ada pertanyaan yang menggunakan kata-kata sulit. Dapatkah siswa SD mengartikan kata “religius”? (=bersifat keagamaan) Jika kata-kata dalam pertanyaan tidak dimengerti siswa, bagaimana siswa akan dapat menjawab?


2)      Tugas siswa terlalu berat
Jika siswa diberi tugas terlalu banyak oleh gurunya di sekolah, maka siswa akan merasakan kejenuhan sehingga tidak berminat lagi mengerjakan PR. Hal itu menjadikan guru seyogianya memberikan tugas sesuai kemampuan fisik dan psikologi siswa. Tugas yang banyak belum tentu memberikan manfaat yang banyak pula. Guru perlu mengetahui berapa beban tugas yang telah dimiliki siswa sebelum memberi tugas yang baru.

3)      Tenggelam dalam teknologi informasi
Teknologi informasi telah membuai anak-anak kita. Facebook, blog, twitter,  televisi dan lain-lain. Alat bantu tersebut dapat memberi manfaat yang sangat besar tetapi dapat juga berdampak negatif yang sangat besar pula. Pergaulan bebas, narkoba, dan seterusnya merupakan contoh dampak negatif dari penyalahgunaan teknologi informasi.
Perlu adanya kesamaan persepsi dari kita semua sebagai warga negara dan masyarakat Indonesia. Persepsi mengenai pentingnya menjaga karakter, kepribadian, budaya dan jati diri bangsa Indonesia di tengah gempuran arus globalisasi. Gerakan revitalisasi karakter bangsa, gerakan budaya dan sastra merupakan sedikit contoh aksi yang mengokohkan karakter bangsa.
Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi. Hal itu jika ada kepedulian kita bersama. []
Banyumas, 27 April 2012


Share:

Pengenalan Internet Sehat Pada Siswa


Oleh Agus Pribadi

Internet merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari di era sekarang. Begitu juga dengan siswa kita yang berada pada masa anak-anak dan remaja. Internet bisa diakses melalui HP, warnet, modem, dan lainnya. Internet seperti dua sisi mata uang. Satu sisi bermanfaat, sisi yang lainnya berdampak negatif.

Pemanfaatan internet untuk kehidupan manusia perlu dikembangkan seluas mungkin. Sedangkan dampak negatif penggunaan internet perlu dihindari sejauh mungkin.
Tugas Guru
Menjadi tugas guru di sekolah untuk terus menerus mengenalkan internet sehat pada para siswa. Internet sehat berarti menggunakannya untuk tujuan positif dan menghindari penggunaannya untuk tujuan negatif. Hal itu akan dapat dilakukan jika siswa mengenal internet lebih dekat, termasuk manfaat dan mudaratnya.
Guru mengenalkan beragam manfaat internet. Internet bermanfaat sebagai sumber informasi, komunikasi, edukasi, hiburan, hobi, dan sebagainya.
Guru mengenalkan berbagai dampak negatif internet. Internet bisa disalahgunakan untuk kejahatan, pornografi, kekerasan, dan sebagainya.
Pengenalan internet pada siswa dapat dilakukan setiap guru pada saat kegiatan pembelajaran di kelas sebagai materi sisipan, atau saat kegiatan ekstrakurikuler. Dapat juga menghadirkan nara sumber yang kompeten tentang internet sehat ke sekolah.
Jika siswa mengenal lebih jauh alat bantu manusia bernama internet itu, maka pemanfaatannya akan dapat ditingkatkan. Sedangkan dampak negatifnya dapat ditekan, bahkan sebisa mungkin dihindari.
Salah satu contoh pemanfaatan internet yang dapat dilakukan adalah penggunaan blog atau jejaring sosial untuk berlatih menulis fiksi maupun nonfiksi. Jika siswa telah suka menulis, maka akan menjadi sebuah hobi yang bernilai positif.
Di sisi lain, dampak negatif internet yang terkadang sangat membahayakan diharapkan  bisa dihindari. Semoga tidak ada lagi berita-berita tentang seorang siswa yang dibawa pergi seseorang yang berkenalan di jejaring sosial, serta berita-berita memprihatinkan lainnya yang berkaitan dengan dampak negatif internet di kalangan anak-anak dan remaja.[]

Share:

Wajib Belajar atau Wajib Sekolah?


Oleh Agus Pribadi (Kompasiana, 12 Februari 2012)

Ke depan, program wajib belajar 9 tahun akan ditingkatkan menjadi wajib belajar 12 tahun. Program pemerintah ini perlu kita sambut dengan gembira. Namun demikian, sudahkah wajib belajar 9 tahun benar-benar terealisasi sehingga perlu ditingkatkan menjadi 12 tahun?

Wajib Belajar
Belajar merupakan kegiatan dalam rangka pengembangan diri dalam berbagai aspeknya : kognitif (IQ), afektif (sikap) dan psikomotorik (ketrampilan). Kegiatan ini dilakukan dengan sadar dan berkesinambungan. Hasilnya akan dirasakan dalam jangka panjang.
Belajar dapat dilakukan di mana saja, di sekolah, dalam keluarga, dan juga dalam masyarakat.  Ketiga elemen tersebut bertanggung jawab dalam memberikan ruang yang kondusif bagi kegiatan belajar.
Seseorang dikatakan melakukan aktivitas belajar, jika ia melakukan kegiatan pengembangan ketiga aspek di atas (kognitif, afektif, dan psikomotorik). Seseorang yang belajar akan bertambah pintar (Kognitif), bertambah dewasa dengan karakter yang semakin matang (afektif), dan bertambah terampil (psikomotorik). Ketiga kemampuan tersebut dikenal dengan istilah kompeten. Maka kita pernah mengenal kurikulum berbasis kompetensi. Belajar juga tidak sekedar bertambah pintar (IQ)/Kognitif, namun perlu juga dikaitkan dengan kondisi lingkungan sekitar. Maka kita pernah mengenal Pembelajaran Kontekstual. Belajar juga perlu penguatan sikap dan karakter (afektif), maka sekarang kita mengenal kurikulum berbasis karakter.
Belajar merupakan kegiatan praktik bukan sekedar teori. Sebagus apapun teori yang digunakan jika tidak direalisasikan hanya akan berupa angan-angan kosong semata. Sebagai salah satu contoh sederhana yang terkadang tidak semudah membalikan telapak tangan adalah sikap jujur dalam praktik pengembangan karakter. Sudahkah kita belajar untuk jujur? Atau jujur hanya sebatas teori untuk diketahui saja (kognitif) dengan mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing baik yang berada dalam elemen sekolah, elemen keluarga, dan elemen masyarakat.
Wajib Sekolah
Wajib belajar 9 tahun dan ke depan 12 tahun yang dimaksud merupakan wajib belajar dalam elemen sekolah. Pemerintah mewajibkan putra-putri kita yang memenuhi syarat usia agar belajar di sekolah.
Namun demikian belajar tidak sama dengan sekolah. Orang datang ke sekolah bisa dengan berbagai tujuan, ada yang untuk belajar, ada juga yang sekedar lewat, dan berbagai kegiatan lainnya selain belajar.
Jika kita mengikuti berita yang berkembang, tentu kita bisa menjadi miris. Berbagai kejadian di negeri ini banyak yang menghadirkan carut marut dalam berbagai segi kehidupan. Kejahatan, kekerasan, kemaksiatan, dan hal-hal negatif lainnya. Kebohongan dan kejujuran menjadi hal yang sulit dibedakan. Mana yang jujur dan mana yang bohong menjadi tersamar.
Berbagai kejadian itu dilakukan mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Anak-anak berada dalam usia sekolah, sedangkan orang dewasa merupakan hasil dari pembelajaran (pendidikan) di sekolah.
Dari peristiwa di atas dapat dijadikan renungan dan refleksi kita bersama, benarkah anak-anak kita telah belajar? Jika telah belajar tetapi belum optimal, tentunya menjadi tanggung jawab kita bersama baik elemen sekolah, elemen keluarga, maupun elemen masyarakat. Bukan saling menyalahkan diantara kita, namun perlu kolaborasi yang dilakukan oleh ketiga elemen tersebut.[]


Share:

MEMBUAT PAKET HIDROPONIK STATIS


Tahap 1 (Menyiapkan Benih)
1.       Potong Rock Wool sesuai garis
2.       Tempatkan Rock Wool pada suatu tempat yang sudah diberi air sumur kira-kira 1 jam
3.       Taruh benih pada Rock Wool
4.       Tunggu  1-3 hari hingga benih bertunas, setelah 3 hari benih yang telah tumbuh ditaruh di bawah sinar matahari
5.       Jika tinggi benih kurang lebih 3 cm taruhlah pada netpot kemudian taruh pada tempat yang sudah berisi air nutrisi

Tahap 2 (Menyiapkan air nutrisi)
1.       Campurkan larutan nutrisi A dan nutrisi B ke dalam wadah yang berisi air sumur sebanyak 10 liter
2.       Aduk sampai rata hingga nutrisi tersebut benar-benar tercampur
3.       Taruh air tersebut ke dalam wadah yang telah disediakan.[]

(Sumber tulisan : brosur Membuat Paket Hidroponik Statis SMA Negeri 2 Purbalingga)

Share:

Senin, 07 November 2016

Jembatan Keledai untuk Pembelajaran IPA SMP


Oleh Agus Pribadi, S.Si
Salah satu ciri pembelajaran IPA adalah menggunakan penalaran untuk memahaminya. Namun demikian bukan berarti IPA tanpa hapalan. Ada materi-materi yang juga memerlukan hapalan. Nah, untuk materi tersebut bisa menggunakan jembatan keledai.
gambar pxabay.com

Dalam Pramuka, untuk menghapal Dasa Darma Pramuka, banyak yang menggunakan jembatan keledai “taci papa rera hedi besu”. Demikian juga dalam IPA ada materi yang bisa menggunakan jembatan keledai, diantaranya adalah :
1.      Menghafal ciri-ciri makhluk hidup
‘narita bergerak makan sitake”
(bernafas, adaptasi, iritabilitas, bergerak, makan, ekskresi, tumbuh dan berkembang, berkembang biak)
2.      Menghafal tingkatan takson dalam klasifikasi makhluk hidup
“kifli di kelas bang sumarji”
(kingdom, filum (hewan), divisio (tumbuhan), kelas, bangsa, suku, marga, jenis)
3.      Menghafal langkah-langkah metode ilmiah
“mas data hipper ku per”
(merumuskan masalah, mengumpulkan data melalui pengamatan, hipotesis, percobaan, percobaan ulang, kesimpulan)
4.      Dan lain sebagainya.
Peserta didik dapat membuat sendiri untuk digunakan dalam menghafal materi pembelajaran.
Demikian artikel sederhana ini, semoga bermanfaat. Selamat mencoba![]

Share:

Kiat Sukses UN IPA SMP 2017


Oleh Agus Pribadi, S.Si
Ujian Nasional (UN) 2017 memang masih beberapa bulan lagi, tepatnya di semester depan. Namun persiapan untuk itu harus dilakukan sedini mungkin.

gambar pixabay.com

Ada beberapa kiat sukses Ujian Nasional 2017:
1.        Persiapan sejak dini
Dalam kegiatan apapun, persiapan sejak dini tentu akan membuahkan hasil yang baik. seperti juga peserta UN, mempersiapkannya dengan belajar giat, tekun, dan rutin tentu akan sangat bermanfaat kelak saat waktu UN tiba.
2.        Latihan Penalaran
IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan. Pelajaran tersebut memerlukan penalaran untuk memahaminya, bukan sekedar hapalan atau mengandalkan daya ingat. Oleh karena itu peserta didik harus terbiasa menggunakan penalarannya untuk memahami materi IPA. Latihan penalaran bisa dilakukan dengan cara menemukan sebab akibat, berpikir logis, mengaitkan pembelajaran dengan kondisi  riil yang ada, dan sebagainya.
3.        Latihan memahami soal
Dalam latihan mengerjakan soal UN sebenarnya bukan apa jawabannya, tapi bagaimana cara menjawabnya. Untuk bisa tahu cara menjawabnya, maka peserta didik harus memahami soal terlebih dahulu. Ini yang terkadang menjadi kelemahan peserta didik yakni kurang memahami dan menguasai soal sehingga mudah untuk terkecoh atau hanya menebak-nebak jawaban saja. Dan peluang untuk salah menjawab pun akan sangat besar.
Peserta didik hendaknya memahami soal dengan menggunakan penalaran dan teliti dalam membaca soal karena di dalam soal ada informasi dan data yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan pada soal.
4.        Pelajari kisi-kisi UN IPA 2017
Kisi-kisi UN memberi ruang lingkup materi yang akan keluar menjadi soal UN, karenanya peserta didik harus mempelajarinya.
5.        Kerjakan soal yang mudah terlebih dahulu
Meski ini merupakan hal yang sudah biasa, namun hendaknya dilakukan karena jika tidak, bisa terjebak pada satu soal yang bisa menghabiskan banyak waktu.
6.        Berdoa
Kekuatan doa adalah hal yang sangat penting untuk memperkuat mental spiritual peserta didik. Berdoalah pada Tuhan Yang Maha Pemurah agar diberi kemudahan dalam mengerjakan soal UN. Semoga sukses UN 2017! []

Share:

Sabtu, 05 November 2016

Hikayat Sepotong Lidah


Cerpen Agus Pribadi (Satelitpost, 19 Desember 2013)

Aku ingin mengatakan kepadamu. Ihwal diriku ini. Diri yang pernah mengalami penyesalan yang sangat pada lidahku ini.
(Gambar Satelitpost)
Aku bukan malaikat. Aku juga bukan setan. Aku manusia biasa, sama sepertimu. Punya kelebihan dan kekurangan. Namun aku ingin menjadi orang yang baik pada setiap orang. Aku ingin menghargai setiap orang selayaknya aku ingin dihargai sebagai manusia tanpa membeda-bedakan jabatan, status sosial, dan sebagainya.
Aku bekerja, menikah, punya anak. Sama seperti manusia lainnya. Aku suka bercanda dengan kawan, dan suka humor. Aku suka bergaul dengan teman-teman dari berbagai kalangan.
Awalnya aku bisa menjaga etika pergaulan. Saling menghormati, menjaga ucapan, dan menjaga agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Aku berusaha menyaingi malaikat. Setiap kata-kata yang kuolah dari lidahku adalah kata-kata terbaik. Layaknya keluar dari mulut para penyampai kebenaran.
Namun, itu hanya sementara. Di waktu yang lain, saat bercanda, saat bicara, saat bergaul, terkadang aku menyakiti perasaan orang lain melalui ucapan yang keluar dari mulutku. Itu menjadi awal untuk kesalahan-kesalahanku selanjutnya. Kesalahan yang kulakukan melalui lidahku. Seakan setan-setan semakin banyak yang bersarang di lidahku. Setan-setan dari berbagai jenis dan bentuknya.
Saat merasa bersalah, biasanya aku akan pindah kerja. Dan berusaha untuk menjaga perkataan dan perbuatan di tempat kerjaku yang baru.
“Mengapa harus pindah kerja? Sepertinya kau di sini betah-betah saja. Prestasi kerjamu juga bagus. Di tempat yang baru belum tentu kau akan sebetah saat bekerja di sini,” ucap Pak Arman, atasanku saat aku mohon diri dari tempat kerja yang dipimpinnya.
“Sebenarnya saya sangat betah bekerja di sini. Namun, saya ingin mencari pengalaman baru yang lebih menantang, Pak.” Kilahku padanya.
Pada awal-awal bekerja di tempat yang baru, aku akan sangat menjaga perkataanku. Namun lagi-lagi itu hanya sementara. Aku kembali menyakiti perasaan orang lain melalui ucapanku. Bahkan sebenarnya aku tak tahu kalau lidahku telah membuat orang lain tersinggung. Aku diberitahu tentang itu oleh kawanku yang lain.
“Seharusnya, tadi kau tak mengatakan keadaan dirinya yang memang gemuk itu. Mukanya langsung merah saat kau mengatakan kalau dia gemuk.”
“Wah, aku tak bermaksud menyakitinya. Aku hanya ingin mengingatkannya kalau dia harus menjaga tubuhnya agar tidak semakin gemuk.”
Demikian seterusnya, aku berpindah-pindah kerja, juga berpindah-pindah tempat tinggal menyesuaikan dengan tempat kerjaku yang baru. Sedikitnya sudah lima tempat kerja yang pernah aku singgahi sebagai tempat mencari nafkah. Namun tetap saja, aku menyakiti orang lain melalui ucapanku. Sebenarnya aku tak sengaja mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Namun mungkin karena lupa atau keceplosan, sehingga aku mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan itu. Sepertinya setan-setan dalam lidahku sengaja menggerak-gerakkan lidahku agar aku mengeluarkan ucapan yang menyakiti orang lain.
Sebenarnya aku bukan orang yang cerewet. Aku bukan seperti ember bocor yang airnya tumpah ke mana-mana. Bahkan aku sebenarnya pendiam. Namun kalau sedang bersama kawan-kawanku yang lain, aku menjadi seorang yang periang dan banyak ngomong. Entahlah mungkin karena sedang berkumpul dengan banyak teman sehingga aku jadi tak terkendali karena senangnya. Setelah itu aku akan menyakiti perasaan orang lain melalui lidahku.
Aku jadi berpikir bagaimana caranya agar aku tak menyakiti orang lain lagi. Aku meminta pendapat orang-orang yang aku anggap dapat memberikan pemecahan atas masalahku ini. Bertanya pada kawan yang kuanggap alim. Bertanya pada kawan yang kuanggap punya pengalaman hidup. Dan seterusnya.
Namun jawaban mereka tak ada yang memuaskan hatiku. Saran dari mereka terlalu sulit untuk aku lakukan. Ada yang menyuruhku untuk puasa bicara. Bicara yang perlu-perlu saja. Ada yang menyuruhku untuk konsultasi ke psikolog.
Aku sempat berkeinginan untuk menyepi, mengasingkan diri dari hiruk pikuk keramaian manusia. Namun aku makhluk sosial, sama seperti manusia lainnya. Aku urungkan niatku itu.
***
Sudah seminggu aku tidak masuk kerja. Tubuhku lesu dan lunglai seperti tak bertenaga. Tulang-tulangku seperti menghilang dari tubuhku. Dokter menyarankan aku untuk banyak istirahat. Istriku juga menganggap aku sakit karena kelelahan.
Aku akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan terbaruku. Istriku tidak kaget, karena aku terbiasa pindah-pindah kerja. Istriku menganggap, secepatnya aku akan mendapat pekerjaan baru.
Namun dugaan istriku meleset. Aku tak juga mencari pekerjaan. Aku lebih banyak merenung diri dalam kamar.
Aku tetap saja menyakiti orang lain karena lidahku. Orang itu adalah istriku sendiri. Aku kerap cekcok dengan istriku karena masalah ekonomi.
“Dasar istri yang tidak pengertian. Suami sedang punya masalah bukannya menghibur hati malah menyakiti!”
“Kau yang tidak pengertian. Suami macam apa setiap hari kerjanya hanya mengurung diri di kamar. Dasar suami tidak bertanggung jawab!”
“Kau yang tidak pengertian!”
“Kau!”
“Kau!”
***
Istriku beserta anakku pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin karena tak kuat mendengarkan umpatan dan kata-kata kotor yang keluar melalui lidahku.
Sejak itu aku tinggal seorang diri di kota asing ini. Kota yang jauh dari kampung halaman. Kota yang tak jauh dari pantai.
Aku jadi semakin kalut. Aku mencoba untuk menghibur diri dengan pergi ke pantai. Menikmati panorama alam. Menjadi saksi saat matahari tenggelam. Namun tak juga mampu menghilangkan perasaan itu.
Dalam kalutku aku memiliki ide gila. Ide itu sempat aku tepis, namun muncul lagi. Aku tepis lagi, dan muncul lagi. Demikian seterusnya.
Hingga suatu hari, aku mengambil gunting. Aku sempat membuang gunting itu ke lantai. Namun aku ambil lagi. Aku buang lagi, dan aku ambil lagi. Demikian seterusnya.
Hingga akhirnya aku bulatkan tekad. Aku mengambil gunting itu lagi. Aku berdiri di depan cermin. Aku menjulurkan lidah. Dan selanjutnya kamu pasti tahu apa yang terjadi padaku. Sepotong lidah terjatuh ke lantai.
Aku tak mempunyai lidah lagi. Aku tak mampu bicara lagi. Aku bisu.
Aku ngomong dengan orang-orang memakai bahasa isyarat, dengan gerakan tangan, dengan senyuman, dan tatapan mata.
***
Aku kembali bekerja. Ada yang mau menerimaku bekerja meski aku tak punya lidah. Aku pun tak pernah menyakiti teman-teman kerjaku melalui perkataan.
Saat istriku datang kembali kepadaku, ia mau menerimaku apa adanya. Suami yang tak punya lidah. Dan sejak itu aku tak pernah menyakiti orang lain dengan kata-kataku.
“Ada orang bisu. Itu orangnya. Tampan sih, tapi tak punya lidah.”
“Iya, wah sayang sekali ya. Tampan tapi bisu. Bicaranya sulit untuk dipahami.”
Kalimat itu kerap aku dengar dari orang-orang, namun aku tak sakit hati. Aku berusaha menerima seberapa pun pedasnya ucapan orang lain. Biarlah mereka menyakitiku dengan lidahnya, yang penting aku tak menyakiti mereka dengan lidahku. Karena aku tak memiliki lidah lagi.
Aku bicara padamu ini pun dengan bahasa isyarat. Semoga kau memahami ceritaku ini. Meski tanpa suara, dan tanpa kata yang kau dengar dari mulutku.[]


Share:

VIDEO PEMBELAJARAN

Frequency Counter Pengunjung

Artikel Terbaru

LINK SAYA

Komentar Terbaru

Konsultasi IPA