BELAJAR SEPANJANG HAYAT


Catatan Harian Seorang Guru IPA







Selamat berkunjung di blog kami, semoga bermanfaat

Sabtu, 12 November 2016

Anak


Cerpen Agus Pribadi

Berbicara tentang anak barangkali akan mengasyikan bagi siapapun yang punya kesadaran arti pentingnya sebuah keluarga. Dulu aku dan saudara kandungku lainnya adalah anak-anak dari ibuku. Dan saat aku sudah menikah, anak-anakku adalah buah hatiku yang selayaknya aku asuh dengan sebaik mungkin.

Gambar Pixabay.com
Anak bukanlah orang dewasa yang berukuran mini. Anak tetaplah anak, seorang manusia yang sedang mengalami perkembangan dengan pesat. Jika salah memperlakukan anak misalnya menganggapnya seorang yang sudah dewasa, maka anaklah yang akan menanggung akibatnya terutama secara psikis.
Masa anak-anak adalah masa yang paling menyenangkan tak ada beban pikiran kehidupan yang terlalu berat. Berbeda dengan orang dewasa yang terkadang permasalahannya seperti benang ruwet yang sulit diurai.
Ketika aku melihat anak-anakku sedang tertidur dan mengamati dengan seksama betapa lelapnya mereka tertidur dan barangkali bermimpi bermain sedang bermain dengan teman-temannya. Barangkali demikian juga yang dilakukan ayahku dulunya kepada anak-anaknya.
Mendidik anak bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Bukan sekadar pemenuhan materi, pemenuhan apapun yang ia minta. Bukan itu. Mendidik anak seumpama menanam tanaman dari biji kemudian dirawat dengan sebaik-baiknya sampai berbunga dan berbuah. Rumput-rumput yang menganggu harus disingkirkan. Kesuburan tanah harus dipertahankan dengan memberinya pupuh. Maka tanaman akan tumbuh subur. Demikian juga dengan mengasuh anak-anak, pendidikan agama dan budi pekerti adalah hal yang utama. Sebagai bekal hidup di masa-masa selanjutnya. Uang dan kepandaian adalah hal yang penting namun jika salah memperlakukannya maka dapat membinasakan. Yang dapat mengendalikan keduanya adalah perilaku dan budi pekerti yang baik yang ditanamankan dan dibiasakan sejak masa anak-anak.
Seingatku ayahku tidak pernah mendidikku dengan menghukum secara fisik. Ayah biasanya hanya marah-marah saat melihat anaknya melakukan sebuah kesalahan. Mungkin pendidikan ayah tersebut kepadaku tidaklah selalu benar adanya, namun sangat membekas di hatiku sampai aku dewasa, sampai aku menikah dan memiliki anak. Ketika aku sedang marah kepada anakku maka aku akan mengingat ayahku dalam mendidikku yaitu tanpa hukuman secara fisik.
Kehidupanku seperti pengulangan dari kehidupan ayahku, dan kehidupan anakku kelak barangkali seperti pengulangan kehidupanku demikian seterusnya entah sampai kapan. Jika melihat perputaran kehidupan seperti itu, tampak sekali betapa cepatnya kehidupan di dunia ini seperti hanya beberapa saat saja. Sepertinya belum lama aku menjalani masa anak-anak yang penuh kasih sayang dari orang tua namun sekarang aku sudah menjadi orang tahu yang sedang mengasuh anak-anak.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Anak-anakku kini sudah memiliki anak, berarti aku sudah memiliki cucu. Ayahku sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Aku berjalan harus menggunakan tongkat. Aku melihat dengan mata tuaku, cucuku sedang berlari-lari mengejar capung di tanah lapang yang luas. Sepertinya cucuku mengajakku ikut berlari mengejar capung namun aku sudah tak mampu lagi melakukannya. Aku hanya bisa mengamatinya dari jauh sambil berjalan tertatih-tatih dibantu dengan tongkat yang selalu setia menemaniku ke mana pun aku pergi.
Kini anakku juga mungkin meniru aku dalam mendidik anaknya, yakni menghukum tanpa menggunakan kekerasan fisik. Aku belum pernah melihat anakku melakukan hal itu pada anaknya.
“Kakek sini bermain denganku mengejar capung. Jangan melamun terus....,” ucap cucuku yang sudah berumur lima tahun sambil berlari mendekatiku. Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan memberi isyarat kalau aku sudah tak bisa berlari.
Aku senang karena anak-anakku sudah memiliki pekerjaan yang tetap dan dari sana dapat menghasilkan uang yang bisa menghidupi anak dan istrinya. Namun ada satu hal yang mengganjal di hatiku ketika di suatu sore anakku yang pertama yang paling sukses mengutarakan sesuatu hal kepadaku dan istriku.
“Ayah aku ingin mengatakan suatu hal kepada ayah dan ibu, namun barangkali ayah dan ibu tidak akan setuju perihal yang akan aku ucapkan ini. Namun aku berharap ayah dan ibu akan menyetujuinya.”
“Jangan berputar-putar, Nak. Lekaslah berbicara apa yang menjadi pokoknya,” kata ibu penasaran.
“Begini, aku ditugaskan oleh kantor, lebih tepatnya dipindah kerja oleh atasan ke kota. Menurut atasanku, aku cocok untuk bekrja di kota. Oleh sebab itu aku akan membawa anak dan istriku pindah ke kota dimana aku akan melaksankan tugas baruku. Dan...”
Belum selesai anakku berbicara istriku sudah menyahuti, “Dan ayah dan ibu akan kamu ajak serta bersamamu?”
“I...iya benar. Itu pun  kalau ayah dan ibu setuju,” kata anakku dengan ragu.
Aku hanya diam, istriku yang menanggapi anak sulungku itu. Apa yang diucapkan istriku juga mewakili apa yang ada di hatiku.
“Aku dan ayahmu sudah menempati rumah ini selama puluhan tahun, bahkan sebelum dipugar rumah ini adalah rumah nenekmu, rumah leluhurmu. Aku dan ayahmu tak mungkin bisa meninggalkan rumah ini dalam waktu yang lama. Terlalu pedih bagiku dan ayahmu untuk menanggung kerinduan seandainya harus jauh dari rumah yang penuh kenangan ini. Pernah aku dan ayahmu mencoba beberapa hari menginap di rumah si bungsu di luar kota, namun aku dan ayahmu merasa sangat ingin pulang meski baru tiga hari kami meninggalkan rumah ini. Jadi, kamu tetap anakku di mana pun kamu berada, namun aku dan ayahmu akan tetap tinggal di sini.”
Anak sulungku mendengarkan ucapan ibu dengan seksama tanpa mampu berbicara lebih jauh lagi.[]
Banyumas, 15 Maret 2016



Share:

0 komentar:

VIDEO PEMBELAJARAN

Arsip

Frequency Counter Pengunjung

Artikel Terbaru

LINK SAYA

Komentar Terbaru

Konsultasi IPA